My Favorite

  • Cerpen
  • Iseng-iseng
  • Makalah

Jumat, 20 Mei 2011

Story Board Iklan TV

Cosma : VI-H1 Public Relations
Produksi Media Audio Visual

Job No             : 018
Client              : PT. Yamaha Indonesia
Product           : Motor
Duration          : 15 Second
Language        : Indonesia
Date                : 21 – April – 2011
Agency            : Gon3 Adv & Comm

NO
VIDEO
AUDIO
1
FRAME 01 : FADE IN. LS. Pada Yamaha Vixion yang terparkir dilingkungan pinggiran kota yang sangat sepi, tidak ada motor lain yang terlihat
SFX : Suara burung-burung berkicau
2
FRAME 02 : Setelah beberapa detik terlihat kucing mengeong, lari cepat menuju belakang motor Yamaha Vixion
SFX : Suara kucing mengeong
3
FRAME 03 : Akhirnya Kucing menabrak motor dan motor YamahaVixion tergoncang pelan karena di tabrak Kucing
SFX : Suara kucing menabrak motor
4
FRAME 04 : Setelah menabrak motor, Kucing kelihatan bingung dan tergocang sedikit, kemudian lari kencang dan pergi
SUPER : looks fast
SFX : Suara Kucing kesakitan
5
FRAME 05 : Kamera tetap pada Yamaha Vixion
SUPER : The New Vixion Action package. YAMAHA
MyYamaha.com
SFX : suara burung-burung berkicau


STORY BOARD
Iklan    : Motor “Yamaha Vixion”
Durasi : 15 Second

FRAME 01 :

LS. Pada Yamaha Vixion yang terparkir dipinggir jalan yang sepi, tidak ada motor lain yang terlihat




VIDEO

AUDIO

SFX : Suara burung-burung berkicau

FRAME 02 :

LS. Setelah beberapa detik terlihat kucing mengeong, lari cepat menuju belakang motor Yamaha Vixion





AUDIO

SFX : Suara kucing mengeong

FRAME 03 :

LS. Akhirnya Kucing menabrak motor dan motor YamahaVixion tergoncang pelan karena di tabrak Kucing




AUDIO

SFX : Suara kucing menabrak motor




FRAME 04 :

LS. Setelah menabrak motor, Kucing kelihatan bingung dan tergocang sedikit, kemudian lari kencang dan pergi

SUPERIMPOSE : looks fast


Looks fast
AUDIO

SFX : Suara Kucing kesakitan

FRAME 05 :

LS. Kamera tetap pada Yamaha Vixion

SUPERIMPOSE : The New Vixion Action package. YAMAHA
MyYamaha.com




The New Vixion Action Package
 





MyYamaha.com
AUDIO

Suara burung-burung berkicau





ANALISIS TRIPLE HELIX DALAM MEMBANGUN SISTEM PERS

A.    Academicy adalah tenaga professional yang membentuk system pers.
Mengenai sedikit sejarah munculnya wartawan sebagai munculnya, Denis McQuail menuliskan dalam bukunya yang bertajuk “Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar” Edisi Kedua. Dalam buku yang sudah dialihbahasakan dari karya aslinya dalam Bahasa Inggris pada 1987 ini, McQuail membahas sedikit mengenai kemenangan liberalisme dan akhir sensor langsung atau beban fiskal, lahirnya kelas sosial kapitalis yang secara relatif bersikap progresif dan beberapa profesi lainnya, sehingga mendorong lahirnya badan usaha profesional, banyak perubahan sosial dan teknologi yang menghendaki adanya sistem kerja pers regional dan nasional yang menyuguhkan informasi berkualitas tinggi. Hal-hal tersebut menyebabkan dimulainya fase surat kabar “borjuis”, yang bermula dari 1850 hingga akhir abad 19.
Ciri-ciri utama “elit” pers baru yang berperan dalam kurun waktu tersebut adalah ketidaktergantungan formal terhadap pihak pemerintah dan kelompok yang mementingkan diri (vested interest), penerimaan ke dalam struktur masyarakat sebagai institusi utama dalam kehidupan sosial dan politik, munculnya profesi kewartawanan yang menerapkan pelaporan peristiwa secara objektif, tanggung jawab sosial dan etis yang tinggi, penerapan peran pemberi pendapat dan pembentuk pendapat secara bersamaan, kecenderungan mengaitkan diri dengan “kepentingan nasional” secara berulang kali.[1]
Dilihat dari sejarahnya, profesionalisme lahir dari rahim era industri, industri pers modern. Profesionalisme lahir untuk memenuhi kebutuhan kaum pemilik modal untuk menghasilkan produk kualitas tinggi yang dapat diserap oleh pasar, alih-alih melayani kebutuhan masyarakat.
WARTAWAN adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional, seperti halnya dokter, bidan, guru, atau pengacara. Sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki empat hal berikut, sebagaimana dikemukakan seorang sarjana India, Dr. Lakshamana Rao:
1.      Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi.
2.      Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu.
3.      Harus ada keahlian (expertise).
4.      Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. (Assegaf, 1987)
Wartawan dikatakan profesional karena pekerjaannya sudah diatur dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) yang dilandasi oleh Undang-Undang Pers no. 40 tahun 1999. Jika tetap memaksakan menanyakan mengenai definisi wartawan profesional, maka jawabannya adalah wartawan yang mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan aturan yang berlaku baik Undang-Undang Pers maupun kode etik yang dikeluarkan oleh asosiasi wartawan atau kesepakatan berbagai asosiasi wartawan. Untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas jurnalistik maka diperlukan keahlian jurnalistik yang didapatkan dari pendidikan khusus.
Mengenai definisi maupun syarat wartawan profesional tidak dituliskan secara eksplisit dalam UU Pers maupun KEWI. Pada Bab 3 pada UU Pers yang meliputi 2 pasal (pasal 7 dan tentang wartawan, tidak dituliskan mengenai wartawan profesional. Pada bab itu hanya dituliskan mengenai wartawan yang bebas memilih organisasi wartawan, menaati kode etik jurnalistik (pasal 7), dan wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya. Namun adanya KEWI sudah menunjukkan profesionalitas wartawan. Pada KEWI pasal 2 (Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik) terdapat penafsiran mengenai cara-cara yang profesional itu, yaitu:


Penafsiran
a.       Menunjukkan identitas diri kepada narasumber
b.      Menghormati Hak Privasi
c.       Tidak menyuap
d.      Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang
e.       Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara
f.       Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri
g.      Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik.
Jadi, mengenai syarat wartawan profesional ialah ketika wartawan tergabung dalam organisasi pers (organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers) yang diakui Dewan Pers dan menaati peraturan tentang profesi kewartawanan (KEWI).

B.     Bureaucracy
Di tahun 2008, dunia jurnalistik Indonesia dipenuhi oleh kehadiran 1.008 perusahaan media cetak, 150 perusahaan media televisi, dan 2.000 perusahaan radio. Data tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, dalam diskusi memperingati 10 Tahun Kebebasan Pers, Selasa (5/5).
Pertumbuhan perusahaan-perusahaan media ini seharusnya bisa menjadi pembuktian dari pengaplikasian UU Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999, dimana kebebasan pers menjadi sesuatu yang bisa diwujudkan di Indonesia. Sayangnya, pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan persiapan yang matang. Kehadiran pemain-pemain baru dalam dunia jurnalistik kita agaknya tidak diperkuat dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat. Belum lagi jika ditinjau dari angka perolehan iklan yang signifikan, dimana kebanyakan media-media ini tidak memenuhi syarat.
Dewan Pers pun akhirnya mengklaim bahwa hanya sekitar 30 persen dari jumlah perusahaan media tersebut yang berada dalam kondisi ’sehat bisnis’. Seiring dengan angka pertumbuhan perusahaan penerbitan pers yang melaju tinggi, semakin banyak pula kasus pengaduan yang diterima Dewan Pers. Kita sering mendengar kasus wartawan gadungan yang meresahkan masyarakat.
Di satu sisi, tumbuhnya begitu banyak perusahaan penerbitan pers dipandang sebagai hasil reformasi dan pelaksanaan keterbukaan informasi yang seluas-luasnya. Akan tetapi di sisi lain, tanpa dukungan sumber daya yang memadai, hasilnya adalah sebuah ‘wadah’ yang bisa jadi tidak sejalan dengan kode-kode etik jurnalistik yang berlaku di Indonesia dan menghasilkan sebaran informasi yang merugikan publik.
Hal ini tentu saja bertentangan dengan apa yang tertera dalam Undang-undang No. 40 tersebut, dimana media pemberitaan pers seharusnya berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial serta lembaga ekonomi.

C.    Corporate adalah sejauh mana kebijakan pemerintah berpengaruh dalam pembentukan system pers.
Apakah yang paling dominan memengaruhi sistem pers? Banyak yang berpendapat bahwa kehidupan pers dalam suatu negara bergantung pada sistem politik atau ideologi yang dianut oleh negara tersebut karena sistem pers merupakan bagian dari sistem negara. Memang jika kita melihat kembali lembaran-lembaran sejarah pers, peristiwa yang dialami dan menimpa kehidupan pers (khususnya pers dalam negeri) selalu berkaitan dan bergantung pada pengawasan pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Pada orde baru dengan Soeharto sebagai pemimpinnya, kehidupan pers dibatasi secara ketat, bahkan cenderung dikekang. Hal itu dapat dilihat dari pembredelan beberapa surat kabar pada 1974 setelah peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).
Contoh yang terkenal ialah Harian Indonesia Raya dengan Mochtar Lubis sebagai punggawanya. Hal itu dilakukan untuk menjaga pers yang pada saat itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan opini publik dan mencegah terjadinya ketidakstabilan politik akibat pemberitaan agar pembangunan, yang sedang gencar-gencarnya dilakukan pada saat itu melalui Pembangungan Jangka Panjang (PJP) dan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) yang terkenal dengan ideologi developmentalisme-nya, dapat berjalan lancar.[2]
Pers yang berada di bawah sistem negara sangat bergantung pada sistem yang ditentukan oleh negara, yakni sistem politik. Sistem politik, yang tergolong dalam suprastruktur, merupakan cerminan dari kehidupan pada infrastruktur atau basis, yaitu kehidupan ekonomi. Jika dilihat dari faktor utama yang memiliki pengaruh kuat terhadap faktor lainnya seperti yang telah digambarkan sebelumnya maka faktor ekonomilah yang paling berpengaruh terhadap segala sendi kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara (sejak berdirinya negara modern) dan kehidupan pers di dalam suatu negara.



[1]. Denis McQuail. 1987. Teori Komunikasi Massa: Sebuah Pengantar. Erlangga: Jakarta. Hal: 12.
[2]. Ignatius Haryanto. 2006. “Indonesia Raya Dibredel”. Yogyakarta: LkiS. Hal: 233

Addah Ajjach

17-12-2010
Edisi Cumi
“Jangan terjebak untuk mencari apa yang kamu alami dengan hatimu sekarang karena semua itu hanya perlu kamu pahami.” 21.15
“Kamu siapa? Kita siapa? Semua manusia siapa?” 21.45
“Yang berharga dalam tubuh kita?” 21.59 aku jawab “hati”
“Kenapa hati?” 22.02 “karena hati adalah akar dari segalanya”
“bukannya hati dan struktur tubuh kita lainnya hanya perantara saja?  Untuk apa yang kita inginkan dan lakukan apapun itu” 22.06 “loh kok bisa”
“lebih berharga hati apa roh kita?” 22.09
“apa kita sadar kalau kita hanya segumpal daging, tulang dan darah, jangan hargai perasaan hati yang tak pasti, hargai roh kita untuk menuju kepastian.” 22.16
“kemaren dan esom hari adalah hari ini, bencana dan keberuntungan adalah sama saja, langit diluar langit dibadan bersatu dalam jiwa……tetep masi nulis cah ayu?” 22.41

Edisi 19-12-2010 : 21.44
Kemilau embun di atas daun adalah setiaku yang abadi di lintas kemarau dalam deras hujan, badai yang dating sebelum waktunya adalah tawa yang manja pada hati yang tak pernah lelah merajut dalam simpul-simpul doa, lemah saat jemari bergetar seperti dulu aku tetap tak mampu …

Edisi 20-12-2010 : 21.40
Begitu mudah orang bertutur manis dan begitu mudahnya membuat hati orang berduka…
Hati nurani seorang wanita tidak berubah oleh waktu dan musim, bahkan jika mati abadi hati takkan hilang seperti kabut berawan yang membubung tinggi di langit raga…

Edisi 30-01-2011
Setiap kali kututup telingaku dari kebisingan kota, aku mendengar gemericik anak-anak bengawan dan derak-derak dedahanan…
Seluruh keindahan yang kubicarakan sekarang ini, yang aku rindu untuk melihatnya seperti anak merindukan susu ibunya…
Jiwaku luka terpenjara ke dalam kegelapan, laksana seekor burung rajawali merana dalam sangkarnya ketika dilihatnya sekawanan burung terbang dengan bebasnya dilangit yang lapang..
Lembah dan perbukitan membakar khayalku, namun pikiran-pikiran pahit menjalin jaring-jaring keputusasaan diseputar hatiku…
Edisi 05-02-2011
Hari demi hari berlalu laksana hantu dan menghilang seperti awan, dan segera tak ada lagi yang tertinggal bagiku selain berbagai kenangan yang penuh duka.
Mata yang dulu pernah kugunakan memandang indahnya musim semi dan bangkitnya alam semesta, tidak lagi mampu melihat apapun selain murka sang prahara dan derita cinta yang tersita…

Tuhan Akulah Hamba-Mu

Waktu itu umurku 20 tahun, sarjana muda sastra Indonesia. Sastra menjadi andalanku untuk hidup tanpa membebani ibu yang berstatus janda. Ayah yang satu-satunya muslim dalam keluarga sudah lama berpulang. Perkawinan beda agama membuatku mengenal perbedaan keduanya, Islam dari ayah dan Protestan dari ibu.
            Lebaran dengan pakaian serba putih yang menandakan kesucian lahir kembali dalam fitrah setelah sebulan penuh puasa, menyatukan ayah dengan kami dalam perayaan. Sedangkan natal dengan kelap kelip lampu diatas pohon cemara, tak pernah ayah hadir. Meskipun begitu ibu tak pernah mempermasalahkannya. Hingga suatu malam dalam shalatnya kudengar ayah berdo’a meminta hidayah buat kami. Hingga di ujung do’anya hanya sang Alif.
            Tekadku sudah bulat untuk tidak pulang sebelum membawa sekeranjang kesuksesan buat ibu, menahan rindu yang semakin menyayat. Aku tidak butuh selimut jika pelukan ibu sudah kudapatkan hanya setumpuk kertas dan pena yang kubawa, menilai scenario Tuhan yang sedang kumainkan namun juga kusaksikan.
            Mungkin memang benar kalau aku tak punya agama. Aku memegang dua agama dari kedua orangtuaku, tapi sepenuhnya aku telah menjalankan ajaran agama ayah, aku sering shalat jum’at menemani ayah. Bahkan akupun telah disunat. Karena itu, kuputuskan untuk mengenal Islam, mencoba mengerti makna sang Alif yang almarhum minta. Tapi bagaimana aku belajar?
            Sisa uang dua ribu rupiah, hanya cukup untuk sebungkus nasi tanpa lauk malam ini. Kulahap suap demi suap nasi, kuingat ayah, puasa senin-kamis tak pernah putus, kecuali ia sakit. Sedangkan aku…??? Bukankah aku jarang makan? Akhirnya kumanfaatkan situasi ini untuk puasa.
            Suatu hari, aku ingin sholat layaknya ayah. Subuh itu aku berhenti di masjid Jami’ Surabaya. Kuambil air wudlu’ dengan mencontek gerakan lelaki di depan kran. Kuikuti gerak yang sama, dari awal hingga akhir. Sekilas lelaki itu berdoa, tapi aku tidak bisa menirunya karena aku tak mendengarnya. “Allah itu maha mendengar, pengasih dan penyayang, dengan niat tulus kita saja, Dia sudah tau”. ku ingat pesan ayah saat mengenalkanku pada Tuhannya yang sekarang juga menjadi Tuhanku. Milikku. Tingkahku mengusik kekhusyukan laki-laki itu, dia merasa terganggu dengan pandanganku yang serba ingin tahu, diapun pergi, padahal masih banyak yang ingin kutahu tentang Islam.
            Tiga hari sudah, tak sebutirpun nasi atau air yang masuk kerongkongan, kepalaku berputar, pandanganku berkunang-kunang, dan seketika lampu Ilahi padam, kurasakan bumi Tuhan gelap. Entah sudah berapa lama aku berada di ruangan ini, lafadz Allah dan Muhammad terpampang jelas dari atas kasur yang aku tempati.
            “Kamu di rumah Allah” ujar lelaki tua yang lebih mirip bapak ustadz. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Rumah Allah itu ternyata masjid, aku berada disalah satu ruang istirahat penjaga masjid selama berhari-hari untuk memulihkan keadaanku. Disaat aku sendiri dalam kesunyian, aku mulai berfikir tentang sang Alif Tuhanku yang ayah ceritakan, dimana Dia? Dimana saat aku membutuhkan-Nya? Dimana ummat-Nya saat aku ingin belajar tentang-Nya? Tidakkah Dia ingin mengunjungiku?.
            Aku membaca Sebuah buku yang tergeletak begitu saja disampingku. Buku itu hanya memberitahuku Islam. Tapi pertanyaan tentang dimana sang Alif yang selama ini aku cari, disetiap emperan jalan yang aku lewati, Belum juga terjawab. Disebuah halaman, tertulis sahabat nabi berkata. “wahai Nabi, dimanakah gerangan Allah itu?” Nabi menjawab, “Allah ada disetiap anak yatim”, “lalu dimana lagi?”, “disetiap musafir”, “lalu dimana lagi?”, “disetiap janda renta yang tak punya pelindung”. Akupun mulai berfikir, bukankah aku anak yatim?, bukankah aku musafir?, tapi aku memang bukan janda atau duda yang renta, tapi dimana sang Alif? Kenapa tak kurasakan keberadaannya?.
            Kesehatanku telah pulih, dan kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan, mencari kesuksesan lewat karya, dan mencari sang Alif. Sebuah cerpen, novel, dan beberapa puisi telah kuuntai lewat ilustrasi perjalanan sebelum aku jatuh sakit. Aku putuskan untuk Menghadap ke direktur majalah “time” untuk memdemokan karyaku, tapi aku tak bisa menemuinya. Berkali-kali kutemui dikantornya, tapi selalu ada rapat. Kuputuskan untuk langsung kerumahnya. Sebuah rumah yang ditutupi pagar tinggi dengan tembok kokoh mengelilingi sekitarnya. Dan tepat ditengah gerbang dua penjaga dengan wajah sangar. Pasti sang direktur tak jauh beda dengan penjaga itu, batinku getir.
            “Sudah buat janji?” tanyanya setelah kujelaskan maksud kedatanganku, aku hanya menggeleng dan dengan wajah sinis sang penjaga berkata.
            “Pasti sulit kalau anda mau masuk, tapi kalau anda juga keras kepala silahkan saja,” tantangnya setelah kupaksa agar membuka pintu kokoh itu.
            Seorang resepsionis masuk melihat daftar janji direktur di papan, sementara aku membolak balik kertas yang kubawa, seorang nenek renta dengan baju penuh tempelan, kaki tanpa alas, dan uban yang sudah memenuhi kepala manatapku dari jauh. Kulihat diriku, mungkin ada yang salah, nenek itu mulai melangkah pelan mendekatiku dengan pandangan datar.
            “Amit nak” pintanya seraya menyodorkan sebuah baskom kecil dengan suara yang gemetar. Sekilas kuingat buku yang kubaca ketika aku terbaring sakit. Benarkah sang Alif berada di dirimu bersama baskom kecil itu, wahai janda tua?, tanyaku dalam hati. Aku ingin tahu dan ingin bukti, benarkah sang Alif berada di tiga orang yang disebut Nabi itu? Kuambil uang Rp.75.000 yang kudapat dari pak ustadz yang menyelamatkanku tempo hari. Aku lelah dengan semua ini Tuhan, takdir dan pencarian tentang diri-Mu, sang Alif yang selalu ayah agung-agungkan. Tanpa berpikir dua kali, kuberikan semua uangku. resepsionis itu tampak terkejut dengan apa yang kulakukan. Mulutnya masih terbuka lebar, sedang nenek itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa.
            “Direktur bersedia menemui anda” ucapnya setelah sekian lama. Kuikuti petunjuknya memasuki bagian dalam rumah itu. Kutolehkan kepala, dan nenek itu sudah tidak ada lagi, segitu girangkah sang nenek menerima uangku?.
            Setelah kusodorkan karyaku, sekilas seorang lelaki berwajah simpatik duduk didepanku, wajahnya tiada henti menyunggingkan senyum.
            “Novelmu bagus, puisimu juga bagus, 3 juta sebagai uang muka dan Jika tidak keberatan, minggu depan kita tandatangani kontrak.” Ujarnya tanpa basa basi, aku terlonjak mendengarnya, apakah aku bermimpi? Tidak ini nyata. Saat itu juga aku langsung sujud syukur, aku tak tahu apa maknanya, tapi ayah selalu melakukannya setiap mendapatkan kebahagiaan. Dalam sujud itu aku menangis, benarkah sang Alif berada di dalam nenek tua tadi? Benarkah sang Alif selalu menyertaiku, ketika aku berada jauh bermil-mil di emperan toko?
            Wahai Dzat yang tiada duanya, ampuni dosa hamba, maafkan hambamu yang na’if ini, sungguh bodoh aku yang telah meragukan keadilan-Mu, maafkan aku Tuhan. Semoga hamba termasuk dari tiga orang yang disebutkan Nabi, karena sang Alif telah kutemukan di emperan jalan.

Teknik Penulisan Skenario Film

Teknik Penulisan Skenario Film
PENGERTIAN SKENARIO
Pengertian mengenai Screenplay atau Skenario menurut Syd Field dalam bukunya The Foundations of Screenwriting adalah :
”A screenplay is a story told with pictures, in dialogue and description, and placed within the context of dramatic structure. A screenplay is a noun – it is about a person, or persons, in a place or places, doing his or her or their thing. All screenplays execute this basic premise. The person is the character, and and doing his or her thing is the action. (1994:8).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa skenario itu adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik. Seorang penulis skenario dituntut untuk mampu menerjemahkan setiap kalimat dalam naskahnya menjadi sebuah gambaran imajinasi visual yang dibatasi oleh format pandang layar bioskop atau televisi. Adapun fungsi dari skenario adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film.
TEKNIK PENULISAN SKENARIO :
  1. Inti Cerita
Tahap awal dalam penulisan skenario adalah menetukan inti cerita yang akan dikembangkan menjadi sebuah skenario. Dalam inti cerita ini kita sudah mempunyai gambaran singkat tentang plot, karakter utama, maupun setting dari cerita. Inti cerita ini bisa berasal dari ide/inspirasi yang kita temukan baik dalam imajinasi atau fenomena keseharian kita. Banyak juga penulis skenario yang mengadaptasi novel, cerpen, atau puisi untuk dikembangkan menjadi skenario.
Inti cerita dari film Romeo and Juliet, misalnya, adalah percintaan antara dua orang anak manusia yang berasal dari latar belakang keluarga yang berlawanan yang pada akhirnya melahirkan tragedi.
  1. Sinopsis
Sinopsis adalah ringkasan cerita yang akan dikembangkan menjadi skenario. Pada umumnya Sinopsis ditulis semenarik mungkin dengan maksud menggoda pembacanya untuk membaca skenario dari sinopsis tersebut. Panjang sinopsis biasanya dari setengah sampai dua halaman. Sebagai contoh, kita dapat membaca sinopsis dari film-televisi Gadis Misterius berikut ini :
“Kisah roman-tragedi tentang seorang pelukis muda yang terobsesi pada gadis cantik yang pernah dilihatnya di tepi jurang. Obsesinya itu menjadi kenyataan ketika dia berkenalan dengan Lilis, resepsionis di sebuah kafĂ© yang mempunyai wajah sangat mirip dengan wanita impiannya itu. Cerita kemudian berkembang setelah wanita yang dicintainya itu pun tiba-tiba menghilang dan dia dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal. Lilis yang telah dipacarinya itu, ternyata telah meninggal jauh sebelum mereka pertama kali berkenalan. Kenyataan-kenyataan yang aneh tersebut justru mendorongnya untuk melakukan penyelidikan sampai kemudian dia menemukan jawaban yang sesungguhnya.”
  1. Karakter
Karakter atau tokoh adalah merupakan salah satu unsur terpenting dalam skenario sama halnya dalam cerpen maupun novel. Akan tetapi dalam skenario, karakter harus lebih dikembangkan secara lebih rinci. Hal ini juga berhubungan dengan kebutuhan aktor atau aktris yang akan memerankan karakter tersebut. Perincian karakter dalam skenario biasanya meliputi nama peran, jenis kelamin, usia, ciri-ciri fisik, sifat/prilakunya, pendidikan, kebiasaan, hubungan dengan karakter yang lain, dan sebagainya. Contoh perincian karakter adalah sebagai berikut :
Lilis, wanita berusia 25 tahun. Matanya teduh, murah senyum, rambutnya yang ikal panjang sampai ke punggung, dan tubuhnya ramping. Seorang wanita cantik yang selalu tampil sederhana, pekerja keras, dan baik hati. Dia juga tegar dalam menghadapi cobaan hidupnya. Meski dia selalu menghindar, namun diam-diam dia pun jatuh hati kepada Alam.
  1. Plot
Penyusunan plot yang merupakan alur cerita sangat diperlukan dalam menulis skenario sebagaimana dalam penulisan novel maupun cerpen. Struktur plot lazimnya terdiri dari 3 (tiga) babak yaitu set upatau awal konflik, confrontation atau komplikasi masalah, danresolution atau penyelesaian masalah. Dengan adanya plot yang disusun terlebih dahulu akan sangat membantu penulis dalam penulisan skenario. Bentuk plot secara sederhana adalah sebagai berikut :
Babak I : Alam berkenalan dengan Lilis di sebuah kafe tempat Lilis bekerja, kemudian timbul rasa saling suka diantara mereka. Konflik mulai timbul ketika secara tidak sengaja Lilis bertemu dengan Pak Willy, Lilis kabur dan menghilang entah kemana. Alam terus mencarinya dan bingung karena dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal. Lilis yang telah dipacarinya itu, ternyata telah meninggal jauh sebelum mereka pertama kali berkenalan.
Babak II : Kenyataan-kenyataan yang aneh tersebut justru mendorongnya untuk melakukan penyelidikan sampai akhirnya dia menemukan jawaban yang sesungguhnya, Lilis dan Pak Willy pernah menikah dan mempunyai seorang anak, namun Pak Willy tidak mau bertanggung jawab. Alam kemudian berhasil menemukan Lilis dan menyatakan keinginannya untuk menikahi Lilis, namun Lilis menampik. Alam pasrah. Pak Willy kemudian berambisi untuk memiliki Lilis dan anaknya kembali. Dia berusaha membujuk Lilis.
Babak III : Lilis akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Alam,happy ending.
  1. Outline
Outline adalah susunan urutan adegan per adegan secara lebih rinci. Jadi bisa dikatakan bahwa outline adalah penjabaran dari plot. Contoh outline adalah sebagai berikut :
1. Di Kawasan Puncak :
1.1. Alam melukis pemandangan perkebunan teh yang ada di hadapannya,
1.2. Alam menghentikan kegiatan melukisnya begitu melihat seorang gadis berdiri di tepi jurang sambil memandang ke dasar jurang dan bersiap-siap melompat,
1.3.Alam yang melihat kejadian tersebut menjadi panik dan berteriak agar gadis itu tidak melompat,
1.4.Gadis itu tidak menanggapinya, dia tetap memandangi dasar jurang dengan tatapan kosong,
1.5.Alam berlari ke arah tepi jurang tempat gadis itu berada,
1.6.Alam tiba di tepi jurang dengan terengah-engah, namun dia tidak menemukan gadis itu lagi, dan seterusnya.
  1. Scene
Scene atau scene headingmerupakan informasi tentang adegan. scene heading umumnya terdiri dari nomor scene, INT/EXT, lokasi adegan, dan waktu adegan. INT atau singkatan dari interior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan, sedangkan EXT atau singkatan dari exteriordigunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di luar ruangan. Adapun bentuk scene heading adalah sebagai berikut :
1. EXT. KAWASAN PUNCAK - PAGI
  1. Action
Action atau aksi adalah keterangan mengenai kejadian dalam setiap scene atau adegan yang merupakan penjabaran dari Outline yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk Scene 1 dapat ditulis sebagai berikut :
1. EXT. KAWASAN PUNCAK - PAGI
Alam melukis pemandangan perkebunan teh yang ada di hadapannya.
  1. Dialog dan Parenthetical
Dialog adalah kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh karakter dalam adegan. Sedangkanparenthetical adalah pentunjuk aksi atau ekspresi yang harus dilakukan oleh karakter dalam mengucapkan dialog. Misalnya emosi, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, dan sebagainya. Adapun dialog yang mengiringi perjalanan sceneyang menunjukkan suara hati atau pikiran dari karakter tanpa melafalkan dialog digunakan istilahVoice Over (V.O), sedangkan dialog tanpa menampilkan karakter dalam adegan digunakan istilah Off Screen (O.S). Contoh dialog danparenthetical adalah sebagai berikut :
8. INT. VILA PUNCAK - PAGI
Alam menghampiri dan melihat sebuah lukisan wanita yang terpampang di dinding ruang tamu. Dipandanginya lukisan itu lama-lama. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.
ALAM
(V.O)
Aku tidak tahu pasti, apakah yang dia kagumi lukisanku atau wanita yang ada di dalam lukisan ini? Aku merasa tidak perlu tahu. Kalaupun dia mengagumi wanita yang ada di dalam lukisan ini adalah hal yang wajar karena akupun sangat mengaguminya, bahkan aku pernah melihatnya walau hanya sekejap.